Rabu, 09 Maret 2016

FGD #4 Dilema Tayangan Acara TV Di Indonesia




Dilema Tayangan Acara TV Di Indonesia

Deskripsi masalah :
  
     Acara Televisi di Indonesia semakin bervariasi. Jika dahulu acara paling favorit adalah acara-acara kuis, sinetron, dan siaran langsung sepakbola, maka saat ini ada berbagai pilihan acara televisi yang fresh dan inovatif.
   Ada berbagai macam hal yang bisa dieksplor dari kebudayaan dan kehidupan masyarakat di Indonesia. Salah satu acara reality show yang menarik di salah satu stasiun TV, mengangkat kisah kehidupan masyarakat dari lapisan bawah yang bisa membuka mata kita bahwa ada banyak orang yang sebenarnya hidup dalam kesulitan.
    Dalam tayangan tersebut dikisahkan bagaimana orang yang hidup serba mapan dan nyaman di kota, bisa ikut merasakan seperti apa beratnya kehidupan.
     Acara televisi seperti ini bisa memberikan nilai moral dan pelajaran yang berharga.
    Namun tak jarang pula banyak tayangan acara telivisi di Indonesia yang kurang inovatif dan menimbulkan banyak kontroversi seperti yang telah kita ketahui.
   Sekarang ini banyak sinetron di Indonesia yang memberikan persepsi negative terhadap masyarakat Indonesia khusunya anak-anak.
    Sebut saja : anak jalanan. Sinetron ini menyajikan sebuah alur cerita yang dibumbui roman juga konflik-konflik internal antar geng motor.
   Tak berhenti di situ pula banyak hal-hal sentimental yang intinya membrikan sebuah pemahaman yang keliru tentang masa remaja. Belum lagi pertengkaran dan perkelahian yang di tontonkan di sinetron ini, secara tidak langsung memberikan anggapan bahwasanya perkelahian atau pertengkkaran akan menyelesaikan suatu permasalahan.
     Sebagaimana kita tahu  televisi lokal memang menjadi kekuatan untuk menggerakkan laju perekonomian dan khazanah budaya Lokal .
    Modal idealisme seharusnya lebih teguh di bandingkan dengan niatan komersial. Ini memang sulit , tapi pasti  bisa  untuk di lakukan jika memang berniat.
    Seperti televisi yang sifatnya nasional ,televisi lokalpun butuh asupan dana  dan ini merupakan masalah klise. Menjamin keberlangsungan televisi  adalah tantangan yang tidak bisa di elakkan bagi seluruh televisi baik lokal maupun nasional.
     Persaingan ini akan bertemu pada peperangan bisnis media yang sangat berpengaruh dan kita tau seolah saling mengancam. Pada akhirnya , media televisi lokal yang besifat audio visual dengan  rating tinggi namun bersifat negative  menginspirasi perilaku sebagian orang, anak-anak, dan dewasa.
   Salah satu contoh adalah seorang anak yang meninggal gara-gara mempraktikan praktik adegan smackdown, kemudian maraknya pelecehan seksual akibat sering melihat tontonan vulgar di kota ajaib itu, film percintaan dan lain sebagainya .
Pertanyaan:
1.     Dari deskripsi masalah di atas apakah KPI (Komisi Penyiaran Indonesia)  sudah memberikan kontribusi yang baik kepada masyarakat Indonesia mengenai tayangan di indonesia?
2.     Apa dampak negatif yang akan di rasakan baik secara langsung maupun tidak langsung bagi kita, selaku penikmat acara tayangan TV?
3.     Dari tinjauan di atas apakah kita sebagai mahasiswa dirasa perlu menggerakkan budaya literasi demi mewujudkan sebuah tayangan yang edukatif?


download materi disini 

1 komentar:

  1. Apakah media harus dibatasi?? Jika bicara media maka akan bicara dengan seni, sebab didalam media mengamdung unsur seni, sedangkan hukumnya seni taklain dan tak bukan adalah estetikanya, maka dalam berkteatifitas didalmnya kpi harusnya dibubarkan sebab adanya kpi, menghalangi kreatifitasan manusia dalam berkreasi. Utamanya dalam bidang seni media tv.
    Pertanyaan ada kepentingan apa dibalik kpi ?
    Permainan implementasi apa yang ada didalm kpi itu?

    Setiap peristiwa selalu memunculka dua dampak"positif dan negatif" dan itu sudah hukum alam. Maka dari itu, yang perlu diperbaiki yang mananya??
    Apakah medianya atau orangnya??

    Gerakan yang sperti apa yang bisa dilakukan mahasiswa?? Literasi edukatif yang sprti apa yang akan dilakukan??



    Hahahha pengacau... :)

    BalasHapus